Obyek Wisata Curug Cigetruk Kec. Dukupuntang Kab. Cirebon
Curug Cigetruk ini Terletak di Desa Mandala memiliki ketinggian ± 35 m. Curug Cigetruk memiliki tekstur alami dan tebing dengan batu-batu besar serta debit air yang cukup tinggi.
Obyek Wisata Curug Ciranca Kec. Dukupuntang Kab. Cirebon
Terletak di Desa Kedongdong Kidul memiliki ketinggian ± 30 m. Curug Ciranca memiliki tekstur alami dan tebing serta perbukitan terjal. Lebih menarik lagi adalah jika dipadukan dengan kegiatan outbond, karena akses menuju Curug Ciranca sangat menantang melewati persawahan, jalan kecil, hutan, serta masuk ke sungai dengan tekstur bebatuan serta akar-akar pepohonan yang menjulur disisi tebing sungai.
Obyek Wisata Situ Pajaten Kec. Dukupuntang Kab. Cirebon
Kawasan Situ Pajaten Obyek Wisata Kec. Dukupuntang Kab. Cirebon
Terletak di Desa Cikalahang dengan areal seluas ± 5,5 Ha. berdekatan dengan Obyek Wisata Telaga Remis Kabupaten Kuningan.
Kawasan Situ Pajaten memiliki danau buatan yang digunakan untuk pemandian dan pemancingan.
Di sekitar danau, dapat digunakan sebagai areal perkemahan.
Akses masuk telah memiliki jalan aspal yang layak. Dilengkapi pula dengan banyaknya rumah makan ikan bakar yang menyediakan berbagai macam menu makanan.
Asal-Usul Desa Kepunduan Kab. Cirebon
Asal-Usul Desa Kepunduan Kec. Dukupuntang Kab. Cirebon
Pada masa ketika kesultanan Cirebon dipimpim oleh Gusti Sinuhun Syarif Hidayatullah dan istrinya Nyi Mas Pakungwati. Pada suatu ketika, Nyi Mas Pakungwati jarang bertemu dengan suaminya, yaitu Gusti Sinuhun Syarif Hidayatullah. Hal ini dikarenakan suaminya sebagai pemimpin kesultanan Cirebon dan juga sebagai waliullah yang bertugas mengembangkan agama Islam.
Untuk menghilangkan kejenuhannya, Nyi Mas pakungwati pergi ke barat hingga ke daerah Warugede. Nyi Mas Pakung Wati pergi karena pundung ( sunda ) yang artinya meninggalkan rumah karena rasa kekesalan terhadap suami. sambil menenangkan pikiran, akhirnya Nyi Mas Pakungwati memutuskan untuk menetap sementara di suatu perkampungan. Oleh masyarakat setempat daerah tersebut diberi nama Kepunduan, dari kata sunda ” Pundung ” yang kemudian menjadi sebuah nama desa yang disebut Kepunduan yang termasuk wilayah kecamatan Dukupuntang dan Kabupatennya Cirebon
Pengikut Nyi Mas Pakungwati diantaranya adalah Ki Bewid dan Nyi Bewid, Ki Sulun dan Nyi Sulun, dan pangeran Dul, merekalah yang menemani Nyi Mas Pakungwati dalam kepergiannya meninggalkan keraton kasepuhan Cirebon. Sedangkan pengikutnya diperintahkan untuk menetap di daerah tersebut, yaitu Kepunduan. Mereka menetap untuk memeberikan ilmu agama Islam kepada masyarakat serta pengembangan perkampungan. Setelah para pengikut Nyi Mas Pakungwati wafat, masyarakat setempat menguburkan jenazah para pengikutnya di areal dekat sungai Cimanggung yang terletak di perbatasan desa Kepunduan dan desa Warugede.
Di Kepunduan terdapat pula dua tokoh masyarakat, yaitu Ki Argasela dan Nyi Supriya yang dikenal dengan nama Nyi Brintik. Kedua tokoh tersebut menurut masyarakat adalah yang mengawali membuka hutan untuk dijadikan pemukiman penduduk. Oleh karena itu, masyarakat setempat menganggapnya buyut ( moyang ), sehingga setiap tahun diadakan upacara “Ngunjung Buyut”, yaitu ziarah ke Ki Argasela dan Nyi Brintik yang maksudnya mendo’akan para leluhurnya.
Asal-Usul Desa Sindangjawa Kab. Cirebon
Asal-Usul Desa Sindangjawa Kec. Dukupuntang Kab. Cirebon
Berawal sekitar abad 16 masehi, seorang Resi yang bernama Pandunata mempunyai seorang putri bernama Nyi Mas Indang Larasakti, mendirikan sebuah pedukuhan disebelah utara kaki gunung Ciremai yang diberi nama Padukuhan Banjarmelati. Kata Banjar yang berarti pekarangan dan Melati berarti bunga putih yang harum baunya. Jadi Banjarmelati artinya sebuah pekarangan atau pemukiman yang bersih dan menyenangkan. Padukuhan Banjarmelati berada dibawah kekuasaan kerajaan galuh (kawali) yang berafiliasi dengan pakuan pajajaran.
Resi Pandunata kemudian menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada putrinya yang bernama Nyi Mas Indang Larasakti, pada masa kekuasaan Nyi Mas Indang Larasakti, padukuhan Banjarmelati kedatangan utusan dari Kesultanan Cirebon yang dipimpin oleh Ki Sura yang membawa perintah untuk menyebarkan agama islam. Hal ini sudah diprediksi oleh Resi Pandunata dan menyarankan kepada Nyi Mas Indang Larasakti agar nantinya dapat menerima dengan baik atas kedatangan utusan dari Kesultanan Cirebon.
Dengan kedatangan Ki Sura dan pasukannya dipadukuhan Banjarmelati membawa perubahan yang amat pesat, sehingga pedukuhan atau perkampungan Banjarmelati menjadi ramai dan menyenangkan dengan suasana yang terang benderang. Karena itulah nama Banjarmelati diganti menjadi Banjarpatom, yang berarti pekarangan atau pemukiman yang bercahaya.
Pada tahun 1629 M, pasukan tentara Sultan Agung yang dipimpin oleh Ki Padmanegara dan Suryalaga, yang mengalami kegagalan dalam melancaran serangannya terhadap VOC dalam perjalan pulangnya ke Mataram mereka singgah untuk beristirahat di Banjarpatoman, karena suasana perkampungan Banjarpatoman yang ramai dan menyenangkan sehingga mereka nyaman dan kerasan tinggal di Banjarpatoman dan sebagian besar dari mereka memutuskan untuk tetap tinggal di Banjarpatoman. Hal ini kemudian diketahui oleh Sultan Cirebon dan menaruh perhatian besar terhadap pasukan dari Jawa ini karena menganggap mereka adalah pejuang.
Kehadiran tentara Sultan Agung di Banjarpatoman merupakan peristiwa bersejarah yang perlu dikenang. Karena itulah Sultan Cirebon tempat ini diberi nama Sindangjawa. Kata Sindang yang berati singgah dan Jawa berasal dari Orang Jawa (Mataram). Jadi Sindangjawa berarti Singgahnya Orang-orang Jawa. Sejak itulah nama Banjarpatoman dilupakan dan orang sering menyebut dengan nama Sindangjawa.
Asal – Usul Desa Cisaat Kab. Cirebon
Asal – Usul Desa Cisaat Kab. Cirebon
Pada abad XIV daerah ini bernama Tresna yang merupakan pintu keluar masuknya
para ki gedeng seperti Ki Gedeng Palimanan dan Ki Gedeng Pasawahan yang hendak
berburu rusa dan menikmati pemandangan pegunungan. Oleh karena daerahnya sering
dilewati pemburu, Ki Buyut Tresna dikenal dengan nama Ki Paderesan.
Ki Gedeng Pasawahan alias Ki Makeru di samping senang berburu, ia kerap kali
memusuhi Mbah Kuwu Sangkan di mana keduanya sama kuat, baik ketika bertempur di
atas gunung maupun bertarung di atas air. Ki Makeru tidak segan-segan melakukan
tipu daya dengan cara yang licik, dan secara tiba-tiba memukul dari belakang,
sehingga Mbah Kuwu dengan ketinggian ilmunya semula terkesan tidak
sungguh-sungguh melayani setiap pertarungan.
Ki Makeru terkenal sakti mandraguna. Ia
memiliki berbagai ilmu hitam seperti ilmu meringankan tubuh, masuk lubang kecil, ilmu mencala putra mencala putri untuk menipu jalasutra, sehingga ia selalu menginginkan pertarungan dilakukan di atas gunung atau di atas air. Mbah Kuwu akhirnya meladeni setiap keinginan Kimakeru, dimana dengan kepandaian ilmunya beliau mengetahui kelemahan musuhnya, apalagi pengikut Kimakeru sebagian besar telah ditundukannya. Segala cara yang di tempuk Ki Makeru dengan mudah dipatahkan beliau. Meskipun bukan tandingan Mbah Kuwu, Ki Makeru tetap tidak mau tunduk bahkan oleh kerena merasa dipermalukan ia menghilang, tidak mau masuk agama islam.
memiliki berbagai ilmu hitam seperti ilmu meringankan tubuh, masuk lubang kecil, ilmu mencala putra mencala putri untuk menipu jalasutra, sehingga ia selalu menginginkan pertarungan dilakukan di atas gunung atau di atas air. Mbah Kuwu akhirnya meladeni setiap keinginan Kimakeru, dimana dengan kepandaian ilmunya beliau mengetahui kelemahan musuhnya, apalagi pengikut Kimakeru sebagian besar telah ditundukannya. Segala cara yang di tempuk Ki Makeru dengan mudah dipatahkan beliau. Meskipun bukan tandingan Mbah Kuwu, Ki Makeru tetap tidak mau tunduk bahkan oleh kerena merasa dipermalukan ia menghilang, tidak mau masuk agama islam.
Setelah melakukan pertempuran, Mbah kuwu bermaksud meninggalkan Pasawahan untuk
beristirahat sambil menikmati air pohon enau (lahang) kesukaannya di
Panderesan. Sangat disayangkan air lahang kesayangannya tidak tersedia sehingga
Mbah Kuwu kecewa dan berkata kepada Ki Panderesan, apabila hendak menyadap aren
bacakan syahadat tiga kali.
Sekembalinya Mbah Kuwu ke Cirebon, Ki Panderesan segera membuat lodong dari
bambu untuk menyadap aren. Sebagaimana dipesankan Mbah Kuwu, Ketika akan
memasang lodong Ki Panderean tidak lupa membaca syahadat tiga kali. Sungguh
ajaib ketika lodong diturunkan esok harinya, ternyata lodong itu tidak berisi
air lahang melainkan mas dan intan.
Ki Panderesan sangat gembira dan berbahagia. Ia bernadar ingin makan bersama
Mbah Kuwu serta pengikutnya yang akan singgah kembali di Panderesan. Untuk
menghormati tamunya itu, Ki Panderesan menyediakan berbagai hidangan, hingga
tanpa disadari ayam yang sedang mengerampun ia potong. Ketika Mbah Kuwu
menikmati hidangan itu, beliau tersenyum dengan hati yang tak tega oleh karena
panggang ayam yang dihidangkan itu berasal dari induk ayam yang sedang
mengeram. Tak lama kemudian panggang ayam itu berubah, hidup kembali seperti
semula.
Ketika akan kembali ke Cirebon, Mbah Kuwu mengajak Ki Panderesan pergi ke
Cirebon. Ketika ditanyakan kepada Mbah Kuwu apakah hewan-hewan peliharaan
seperti ayam, bebek, kambing dan lainnya perlu dibawa ke Cierbon? Mbah Kuwu
Sangkan Mengatakan tidak perlu. “Lihat saja nanti apa yang akan terjadi”,
pintanya. Dan tak lama kemudian semua hewan berubah menjadi ular. Oleh karena
itu, daerah ini terkenal dengan ular-ularnya yang besar. Dalam perjalanan ke
Cirebon, Pusaka cis milik Mbah Kuwu terjatuh ke sungai. Para pengikut Mbah Kuwu
segera menambak sungai dengan pasir atau keusik. Setelah itu airnya ditimba
atau di parak berammai-ramai hingga kering atau saat, akan tetapi yang
ditemukan hanya kerangkanya saja. Sungai tempat terjatuhnya cis Mbah Kuwu itu
dikenal dengan nama Parakan Keusik, dan daerah sekitarnya di sebut Cisaat
hingga sekarang.
Langganan:
Postingan (Atom)









